Street food pada umumnya menjual makanan dengan harga murah, praktis bisa langsung dimakan dan memberikan pengalaman menyenangkan. Jajanan di Asia tidak hanya memberikan rasa yang enak dan menyenangkan, tapi bisa membuat siapa saja bertanya-tanya. Banyak makanan di luar nalar yang benar-benar dijual yang bikin orang bakalan mikir “ini beneran bisa dimakan?”
Makanan-makanan ini bukan sekedar konten yang jadi viral, makanan ini juga di konsumsi olrh masyarakat lokal, bersejarah dan sering kali lahir dari kondisi budaya, ekonomi, dan keadaan lingkungan.
Simak artikel berikut buat tau streetfood di luar nalar di Asia.
1. Sate Kalajengking – Thailand
Pasar malam yang ada di Thailand, ada yang menjual kalajengking goreng kemudian ditusuk seperti sate. Dibilang mirip keripik udang, sate kalajengking memiliki tekstur yang renyah dan punya rasa yang gurih. Makanan berasal dari serangga juga merupakan sumber protein alternatif yang murah dan mudah didapatkan. Thailand sendiri memang punta budaya makan serangga atau entomophagy yang cukup luas.
2. Balut (Telur Bebek Embrio) – Filipina
Telur bebek yang sudah membentuk embrio yang mulai berkembang lalu direbus ini di jual di gerobak malam hari. Biasanya disajikan dengan garam atau cuka. Meskipun aneh, bagi orang Filipina, makanan ini sudah biasa menjadi camilan yang mengenyangkan dan terjangkau. Secara nutrisi balut memang mengandung protein dan lemak yang tinggi.
3. Sannakji (Gurita Hidup) – Korea Selatan
Gurita kecil yang sistem sarafnya masih aktif meskipun telah dipotong-potong ini biasa disajikan dengan minyak wijen. Orang Korea sendiri meskipun menjualnya sebagai street food, sannakji masih menjadi pengalaman kuliner ekstrem karena tentakelnya masih bisa menempel di lidah atau tenggorokan.
4. Sup Sarang Burung Walet – Indonesia
Indonesia juga memiliki beberapa street food diluar nalar, salah satunya sup sarang burung walet yang memiliki warna bening dan tekstur seperti agar-agar. Bagi orang luar negeri, makanan ini aneh karena dibuat dari air liur burung walet yang mengeras. Tapi makanan ini dianggap bernilai tinggi dan sering dikonsumsi untuk tujuan kesehatan oleh budaya Tionghoa-Indonesia.
5. Telur Seratus Tahun (Century Egg) – Tiongkok
Namanya memang seratus tahun, tapi pembuatan telur ini hany memerlukan waktu beberapa minggu. Telur yang diawetkan dalam kurun waktu tertentu ini diawetkan hingga putih telurnya berubah menjadi gel bening kehitaman dan kuningnya hijau tua. Penampilannya sering kali membuat wisatawan ragu, tapi sebenarnya makanan ini sudah umum di makan di negeri asalnya sana.
6. Kecoa Goreng – Tiongkok
Kecoa yang digoreng kering ini banyak digoreng di beberapa kota besar di Tiongkok. Disajikan dengan bumbu ringan, kecoa goreng biasa dimakan dan dijual sebagai camilan. Kecoa yang diikonsumsi juga bukan kecoa rumahan, namun jenis ternak khusus. Makanan ini muncul dan berkembang sebagai solusi pangan berkelanjutan dan bagian dari budaya konsumsi serangga.
7. Jantung Kobra – Vietnam
Dipercaya dapat meningkatkan stamina, beberapa wilayah di Vietnam menyediakan jantung kobra segar ataupun dimasak dan kadang juga dicampur alkohol. Makanan ini bukan makanan sehari-hari, melainkan tetap dijual di beberapa tempat tertentu. karena praktiknya kontoversial, praktiknya semakin dibatasi. Akan tetapi masih ada dalam budaya kuliner tradisional di Vietnam.
8. Shirako (Sperma Ikan) – Jepang
Makanan yang dianggap sebagai makanan mewah musiman ini berasal dari kantung sperma ikan, biasanya dari ikan cod. Shirako memiliki tekstur yang lembut, creamy dengan rasa yang ringan. Biasanya dijual di kedai makanan laut, beberapa pedagang pasar kadang juga menjualnya.
9. Ulat Sagu – Indonesia (Papua & Maluku)
Di Indonesia bagian Timur, Ulat sagu menjadi bagian tradisi dan identitas pangan daerah Timur Indonesia yang memiliki sumber protein tinggi. Bahkan masyarakat lokal menganggap ulat sagu bukanlah makanan yang aneh. Ulat sagu yang memiliki tekstur lembut dan rasa mirip lemak ini bisa dimakan mentah atau melalui proses pemanggangan atau penggorengan.
10. Sup Darah Bebek – Vietnam & Tiongkok
Darah bebek dicampur dengan bumbu, dibekukan dan disajikan sebagai sup dingin atau lauk. Akan tetapi, karena alasan keamanan pangan, konsumsinya semakin jarang dan masih menjadi bagian kuliner tradisional.



